PKS Dicela, PKS Dicinta
Oleh: Nicko
PAGI ini di gang di perumahanku selalu ramai dengan para tetangga yang sedang bersih-bersih, menyiram koleksi bunganya. Sebagian mencuci mobil atau motornya. Ada juga yang hanya sekedar olah raga ringan atau pun sekedar ngobrol dengan tetangga yang lain sambil mengawasi anak-anaknya bermain.
Cukup ramai sekali. Suasana yang selalu ku tunggu-tunggu karena hanya ada pada saat akhir pekan, setelah 5 hari sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. jadi ini lah waktu untuk berinteraksi dengan para tetangga.
Dan pagi ini, Pak Amir, tetangga depan rumah dengan wajah agak manyun curhat padaku.
“Ternyata berat juga menjadi suami dari perempuan yang pakai jilbab besar-besar pak”, ujarnya memulai curhatnya.
“Lho…, memangnya kenapa pak?”, sahutku.
“Selain ″dituduh″ pasti alim, pasti sering ditanya soal perkembangan PKS”.
“PKS? Apa hubungannya?”
“Ya hubungannya erat. karena yang semua jilbab besar dan jenggotan pasti dikira PKS. Setidaknya itu anggapan orang mesjid kompleks kita”.
Belum sempat aku menimpali, Pakde Mul, lewat dan ikut bergabung dalam percakapan kami. Pakde Mul ini adalah seorang bapak tua mantan sopir bis, dan sekarang ikut tinggal bersama anaknya, di ujung gang, sejak istrinya wafat 4 bulan yang lalu.
Setelah ngobrol ngalor-ngidul sebentar dia melontarkan pertanyaan (pernyataan?) yang cukup menohok :
“Bagaimana nih PKS, kok punya kader suka main perempuan, suap-suapan, gonta-ganti pasangan, kayak Eyang Subur aja?”
“Tanya sama saya pak?”, Pak Amir menyahuti
Ya iyalah. Pak Amir ini kan kader PKS”
”Ya elah…Pakde main tuduh aja”. Saya kan bukan kader, saya kan anggota DPP. Hehehe..”, sahut Pak Amir sambil tersenyum kecut.
*Seandainya Pakde itu punya akun fesbuk, mungkin lebih mudah. tinggal katakan:
“Pak, add akun saya ya..ntar saya tag artikel tentang PKS”. Persoalannya sodara-sodara, Pakde itu tidak punya akun fesbuk. Boro-boro punya akun fesbuk, baca koran aja nebeng ke rumah. *eitss.., tapi kami ikhlas kok kasih minjam korannya.
Akhirnya daripada panjang lebar, saya katakan saja. “Waduh Pakde, jangan selalu percaya berita di tipi dan koran. Bisa jadi itu fitnah.”
“Fitnah gimana? itu di tipi ditampilkan berulang-ulang.”, sahut Pakde.
“Iya pak. tipi emang tampilkan berulang-ulang, tapi informasinya bisa sesat dan menyesatkan. Kalau Pakde mau lihat kader PKS, lihat istri saya, Pakde. Alim, baik, suka minta diantarin ke sekolah, suka ngaji, jarang minta beli make-up. Suka masak juga, kalau pas lagi rajin aja sih hehehe…”. Masak Pakde lebih percaya sama yang di tipi daripada sama yang di dunia nyata?” Pak Amir berusaha menjawab, panjang lebar.
“Lhoo..lha lalu Ahmad Fathanah itu siapa?” tanya Pakde seperti penasaran.
“Saya gak kenal. Pakde kenal?”
“Gak juga sih. Cuma lihat di tipi.”
“Kalau gak kenal kok nuduh-nuduh dia kader PKS Pakde? Hati-hati lho Pakde, menuduh-nuduh itu fitnah. Fitnah lebih jahat dari pembunuhan”.
“Lha..yang kasih kabar kan Metro mini sama Tipi Oneng?” Pakde gak mau kalah.
“Ya jangan langsung main percaya aja Pakde”, ujarku, berusaha menengahi. “Soal mereka menuduh, ntar mereka sendiri kan yang nanggung akibatnya. Paling-paling di akhirat kelak mereka kudu datangi kader PKS satu per satu untuk minta maaf, karena ulah mereka bisa-bisa semua kader PKS yang biasanya sering dijumpai di mesjid malah dituduh suka main di hotel”.
“Sudah deritanya kader PKS dituduh pak, semoga jadi penghapus dosa.” timpali Pak Amir.
Si Pakde diam.
Alhamdulillah..semoga kelar masalahnya. Tapi baru saja Pak Amir mau beranjak mengantar istrinya ke pasar, si Pakde tadi tiba-tiba ngomong ; “Eh Ummi Harist (panggilan istri Pak Amir) itu cucu saya daftarkan ke SDIT ya”.
“Pendaftaran sudah penuh pak”, jawab istri Pak Amir.
“Lho kok saya gak dapat informasinya? Saya gak mau tahu ! Cucu saya kudu sekolah di SDIT Ummi Harist.”
“Kenapa harus Pakde?” tanyaku. Penasaran.
“Karena yang ngajarnya orang PKS. shalih-shalih…”
Perasaan barusan aja Pakde mencak-mencak ribut karena lihat berita di tipi tentang PKS, eeh sekarang cucunya malah dipaksa-paksa sekolah di sekolah yang gurunya rata-rata kader PKS.
Hmm.., mungkin begitulah nasib jadi kader PKS, walau dicela, ternyata tetap dicinta.
Sabar ya Ummi Harist. Ngajar tetap ikhlas, walau yang diajar adalah cucu (juga anak-anak) dari tukang cela PKS di kedai kopi, di kantor-kantor, di perusahaan swasta.
Memang cuma orang baik yang yang bisa ngajar anak-anak tukang cela. Bak pepatah Amerika :
“Air tuba di balas air kelapa..Cela dibalas dengan cinta..”
*nyuci pakaian dulu aah… ntar keburu mendung.
*http://sosbud.kompasiana.com/2013/05/12/pks-dicela-pks-dicinta-555157.html
Comments
RSS feed for comments to this post