Media Cicak Vs Media Buaya (Bagian 1)
Oleh : Budi Andong
Mungkin masih ingat dalam memori otak kita peristiwa perseteruan antara Kepolisian Republik Indonesia dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ketika itu Kepolisian RI disebut sebut buaya sementara KPK sebagai cicak. Kalau kita analogikan antara Cicak Vs Buaya tentu pertarungan yang tak seimbang. Tentu secara kasat mata pertarungan ini sangat sangat tak seimbang. Cicak begitu kecil, sementara Buaya begitu ganas, besar, dan menyeramkan. Pada waktu itu, publik pun ramai-ramai mendukung KPK sebagai Cicak.
Kini ‘pertarungan’ Cicak vs Buaya kembali terjadi. Bedanya kalau dulu antara dua institusi penegak hukum, sedangkan saat ini antara media kawakan (Buaya) vs media cicak (website, blog, dan jejaring sosial kader PKS). Media buaya ini menguasai ranah yang sangat luas dan sangat mudah diakses oleh publik. Mereka menguasai website, koran, radio, sampai televisi nasional. Sementara media cicak hanya mengandalkan website (hanya sedikit), blog, dan jejaring sosial (Facebook, Twitter). Media buaya mempunyai jaringan wartawan yang ‘profesional’, sedangkan media cicak hanyalah ‘wartawan’ amatir.
Cerita berawal ketika media buaya membuat berita dan menggiring opini publik terkait drama politik yang menghebohkan negeri ini. Ditengah ramainya kader-kader partai sebelah terjerat korupsi dan sudah dijadikan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kasus dugaan suap impor sapi pun dimunculkan ke publik. Media buaya berlomba-lomba untuk membuat berita dan menjadikan headline di setiap media mereka. Bermula ketika penangkapan Ahmad Fathanah yang lagi ‘indehoy’ di hotel bersama Maharani. Waktu itu, AF pun mengaku kepada KPK akan menyuap Luhfi Hasan Ishaaq (LHI). Berbekal dengan semangat ’45 dan atas dasar ‘pengakuan sakti’ AF, KPK bergerak sangat cepat melebihi kecepatan kuda berlari menjadikan LHI tersangka dan langsung menangkapnya serta menjebloskannya kedalam sel tahanan. Media buaya pun senang sekali atas kasus yang menimpa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini. Penggiringan opini oleh media buaya pun dibuat, seolah-olah PKS sudah divonis hakim bersalah. Kasus partai sebelah pun hilang bak ditelan alam. Hebat!
Media buaya meraup keuntungan besar atas kasus yang menimpa PKS ini. Rating mereka naik, oplah koran bertambah. Wallahu ‘alam apa motif media buaya ini menggiring opini publik, apakah hanya bisnis semata ataukah memang ada agenda tertentu. Yang jelas, kita tahu siapa yang menguasai media buaya ini. Dan jujur, saya sudah tidak percaya dengan ‘kenetralan’ mereka sebagai media yang seharusnya mencerdaskan masyarakat.
Kembali ke masalah pertarungan media buaya vs media cicak. PKS beruntung mempunyai kader yang solid, militan, dan cerdas. Ditengah badai yang menimpa PKS, kader partai ini pun ramai-ramai membuat tulisan untuk meluruskan opini publik yang ‘sesat’. Dengan pena tajam mereka, media cicak yang dimiliki PKS dan kadernya pun mampu mengimbangi pertarungan melawan media buaya. Media cicak pun menjamur dimana-mana. Beberapa website, ratusan blog, dan ribuan akun jejaring kader PKS aktif dalam pertarungan media ini. Kalau media buaya mengandalkan wartawan berbayar (digaji maksudya), sementara media cicak semuanya gratis tidak ada yang dibayar. Media cicak hanya ingin mengcounter atas ‘penyesatan’ opini publik publik yang berkembang. Alhamdulillah, walaupun hanya media cicak, masyarakat pun banyak yang tercerahkan atas apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah kasus dugaan suap impor daging sapi memasuki persidangan (Jumat, 17/5/2013), media buaya kebakaran jenggot. Opini yang mereka buat selama ini terpatahkan dipersidangan. Semua fakta sidang menjungkirbalikan opini dan dugaan mereka. Bahkan, karena tidak sesuai dengan skenario, dua media televisi nasional yang mereka miliki tiba-tiba menghentikan siaran langsungnya. Padahal, mereka sedang menyiarkan sidang kasus dugaan suap impor sapi. Namun, ketika kesaksian AF bertolak belakang dengan opini yang mereka buat selama ini acara siaran langsung pun diputus. Berbeda dengan media cicak, mereka ramai membuat berita di website/blog dan membuat status di media jejaring sosial tentang fakta sidang yang sebenarnya. Untuk sementara skor 1-0 untuk media cicak mengalahkan media buaya. Namun seolah tak mau malu, salah satu media buaya ini pun mencoba mengalihkan isu untuk menutupi kesaksian AF. Ceritanya ketika Ketua Bidang Humas DPP PKS, Mardani Ali Sera, diajak berdialog oleh media televisi buaya. Dalam acara ini, selain menghadirkan Mardani Ali Sera juga menghadirkan dua narasumber lain. Apa yang dibahas? Ternyata media buaya ini hanya membahas masalah ‘sandi pustun’. Kurang kerjaan kayanya media yang satu ini. Mardani Ali Sera pun tertawa geli atas pembahasan ini.
Bersambung....