Mengenang NAKBA
Oleh : Dewi Setyaningsih
Anak-anak kecil menggoncangkan ibunya
Yang lemah lunglai tak lagi bernyawa
Jeritan suara batinnya
Tak siapa mendengarnya
Tergadaikah marwah oleh janji-janji
Terbayarkah dengan nyawa dan darah
Soalan yang tiada jawaban
Kemanusiaan telah lama hilang
Kini yang tinggal hanya ketakutan
Musnah kasih sayang dan persaudaraan
Tandus akhlak dan keimanan
Menyemai persengketaan
Mari kita ingat kembali peristiwa duka di bulan ini. Pada 15 Mei 1948 peristiwa ini terjadi. sehari setelah diproklamirkannya negara Israel. Hari ini menjadi hari kemenangan bagi Yahudi, tapi duka nestapa bagi Palestina. Diberi nama Nakba yang artinya malapetaka.
Ketika malapetaka tersebut belum terjadi, di peta dengan jelas tersebut daerah ini dengan nama "Palestina". Namun setelahnya dengan paksa dan sistematis tertulis "Israel". Tidak banyak dari kita yang mengingat peristiwa ini. Disaat Zionis Laknatullah yang bersenjata lengkap dengan pongahnya mengusir, melecehkan serta membantai saudara-saudara kita Palestina.
Lantunan senandung dari NowSeeHeart diatas sungguh menggambarkan bagaimana suasana yang terjadi di Palestina sana. Sungguh perih rasa hati ini tatkala melihat bocah-bocah berharap Sang Ibunda masih hidup. Padahal ibunya telah terbujur kaku dan nyawanya menghadap Ilahi Robbi. Meski kemanusiaan tiada lagi di Palestina, telah tergantikan ganasnya Zionis mencaplok setiap jengkal tanah milik mereka. Namun, bukan bangsa Palestina namanya jikalau mereka kehilangan marwah hanya karena tertindas.
Mereka tidak akan menggadaikan harga diri mereka. Lebih baik syahid ketimbang menuruti apa kata Zionis. Mereka membayar mahal itu semua dengan nyawa dan darah. Dan Nakba hanya perlu menjadi pengingat perjuangan bangsa Palestina, bukan menjadi peristiwa untuk ditangisi. Tangisan kita tiada akan berguna melainkan doa yang lebih berharga. Kita di dunia wa bil khusus Indonesia, boleh berjauhan jarak dengan saudara kita di Palestina, tapi ta'liful qulub(keterikatan hati) mestilah terjaga.
Dan Palestina akan selalu hadir namamu di dalam setiap denyut nadi kami, terselip di setiap bait-bait munajah kepada Sang Kuasa. Langit pun berubah warna menjadi merah saga lantaran bercampur mesiu Zionis. Tanah memerah, subur tergenang darah para syuhada'.
"Faidzaa faroghta fanshob wa ilaa robbika farghob"
Alhamdulillah, perjuangan kita untuk mengembalikan izzah, sejak runtuhnya supremasi kedaulatan ummat di Turki delapan dasawarsa yang lalu hingga kini terus bergelora. Direntang waktu itu, kitapun menyaksikan dan merasakan betapa kerasnya berbagai rintangan yang menghadang. Kegagalan ataupun keberhasilan pada satu fase dakwah seringkali melumpuhkan semangat kita untuk terus berjuang. Kegagalan atau keberhasilan bukanlah isyarat untuk berhenti berjuang, dan seharusnya kita terus berjuang. Perjuangan untuk tegaknya keadilan harus terus melaju melanglangbuana menembus batas-batas geografis. Bangsa Palestine mengajari kita bagaimana seharusnya kita berjuang. Pengusiran, penangkapan, sampai pembantaian tak pernah mampu menahan laju perjuangan mereka untuk terus mengusir Yahudi sang penjajah. Kita tidak boleh berhenti berjuang dan seharusnya kita tak kenal henti.
Saat langit berwarna merah saga dan kerikil perkasa berlarian
Meluncur laksana puluhan peluru, terbang bersama teriakan takbir
Semua menjadi saksi atas langkah keberanianmu
Kita juga menjadi saksi atas keteguhanmu
Ketika yahudi-yahudi membantaimu
Merah berkesimbah ditanah airmu
Mewangi harum genangan darahmu
Membebaskan Bumi Jihad Palestina
Perjuangan telah kau bayar dengan jiwa
Syahid dalam cinta-Nya
(Shoutul Harokah: Merah Saga)
-Dalam Tangisan, berharap. Tersungkur-