07May2013

Home Taujih Sabarmu Akhwat

Sabarmu Akhwat

Tweet
Buffer

Sabarmu Akhwat

SETELAH sujud terakhir sholat malam yang panjang, tersimpuh di dinginnya malam, tunduk tekuri sajadah yang kian lusuh. Ada tetesan tak berbunyi bergulir di ats pipi. Kesunyian itu tiba-tiba datang lagi tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Entah mengapa...

Sebenarnya ada rasa malu mengakui, mengingat materi-materi yang telah di terima setelah berdekatan dengan kajian islam bertahun-tahun, bahkan sebagian sudah di nasehatkan kepada orang lain “ Muslimah itu harus berjiwa tegar, militan, jangan cengeng terhadap hal-hal remeh ”. “Mengapa kader terbina masih mikirin soal cinta mencinta, jodoh menjodoh, nggak jamannya lagi” iya, iya ngerti. Tapi Tuhan, maafkan aku tetap kesepian....

Allah, betapa ridha diri ini tunduk pada perintah-Mu, perintah menundukkan pandangan, perintah mengulurkan jilbab, perintah terus memperbaiki diri dari hari ke hari. Menanti janji-Mu adalah aliran air tersegar yang tak akan pernah putus.

“... Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik  adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula) ”. (An Nuur:26)

Tetapi, bolehkah hamba bercerita pada-Mu wahai Rabb? Bahwa hati ini begitu cepat terbolak balik, kadang ia kuat bak benteng kokoh, tapi sering pula ia rapuh bak rumah kardus di bawah kolong jembatan. Dan syetan tahu itu ya Allah. Mereka begitu senangnya menggoda, sehingga dalam penantian yang panjang ini terselip pandangan yang belum halal, ada perkataan yang belum halal, ada derap hati yang belum halal dan ada usaha mencari perhatian yang belum halal. Ah.. kau tahu dari yang hamba ceritakan.

Allah, betapa takutnya hamba membuat Kau cemburu. Hamba tak mengerti mengapa tak ada gerak dari hati mereka untuk tidak terus memanjai angan-angan?

Sahabat, sesungguhnya cerita ini bukan untuk diri saya sendiri. Saat ini, di tengah malam ini, mari kit tengok ke jendela-jendela terbuka. Di atas ribuan sajadah, bersimpuh perempuan-perempuan yang sedang merindu. Tetesan-tetesan air mata mereka terus membasahi bumi, air mata mujahidah yang sangat takut tergelincir pada kemaksiatan. Tak perih jua kah mereka melihatnya? Tak ada kah sepotong hati untuk meringankan beban itu?

Dan sahabat, bila kau salah satu dari perempuan bersimpuh itu, maka bersabarlah... benar tidak mudah. Tapi tidak ada yang salah dengan janji-Nya. Janji-Nya adalah keniscayaan terindah, walau itu harus kau tebus dengan kesabaran yang berdarah-darah.

Jangan lelah memuliakan dirimu. Bukan untuk dia, juga bukan untuk dirimu sendiri. Tapi semata hanya untuk Rabb-Mu. Sungguh, itu bagian dari tarbiyah dengan cara yang berbeda. Dan Maha benar Allah, lelaki mulia itu akan datang atas nama kemuliaan pernikahan. Tanpa perlu kau teriaki, dian telah mendengar dengan kesediaan tertinggi akan seruan lembut Tuhan-Nya, yang di sampaikan kepada hamba terkasih dan utusan-Nya. Kalaupun tidak di dunia, insya Allah ada akhirat yang kita percayai.

*Di kutip dari buku “Akhwat Modis

Add comment


Security code
Refresh