Cerita Inspirasi : Berpikir Beda
SEORANG Maharaja akan berkeliling negeri untuk melihat keadaan rakyatnya. Ia memutuskan untuk berjalan kaki. Baru beberapa meter berjalan di luar istana, kakinya terluka karena terantuk batu. Ia berpikir, “Ternyata jalan-jalan di negeri ini jelek sekali, aku harus memperbaikinya”.
Maharaja lalu memanggil seluruh menteri istana. Ia memerintahkan untuk melapisi seluruh jalan -jalan di negerinya dengan kulit sapi yang terbaik. Segera saja para menteri istana melakukan persiapan-persiapan. Mereka mengumpulkan sapi-sapi dalam negeri.
Di tengah–tengah kesibukan yang luar biasa itu, datanglah seorang bijak menghadap Maharaja. Ia berkata pada Maharaja, “Wahai Paduka, mengapa Paduka hendak membuat sekian banyak kulit sapi untuk melapisi jalan-jalan di negeri ini, padahal sesungguhnya yang Paduka perlukan hanya dua potong kulit sapi untuk melapisi telapak kaki Paduka saja”.
Konon sejak itulah dunia menemukan kulit pelapis telapak kaki yang kita sebut “Sandal”.
Cerita di atas mengajarkan kita tentang bagaimana BERPIKIR BEDA
Setiap kita pasti akan berpikir, terus berpikir dan selalu berpikir selama ada kehidupan. Berpikir bisa di barengi dengan ekspresi yang datar, diam sambil menggerakan mata, melamun, menyimpan telunjuk kanan di kepala sebelah kanan (hee... sambil membayangkan) atau tiduran sambil mengangkat kaki dan ketiduran.... atau mungkin juga Anda pernah melihat seorang wanita yang sedang memegang buku dan pulpen sedang bengong sambil berpikir, hati-hati..!!! bisa jadi itu saya sedang menulis cerita tentang Anda... hee.
Berpikir beda itu memandang sisi lain/cara lain dalam berpikir, atau mengarahkan otak kita pada pola pikir yang tidak sama, karena kalau berpikir sama maka yang akan di hasilkan akan senantiasa sama. Sementara yang namanya sama itu tidak ada yang menang dan yang kalah alias seri, padahal sang pemenang itu melakukan sesuatu dengan cara dan pola pikir yang berbeda. Tentunya yang positif ya...
“ Jika kita bercermin pada berpuluh – puluh kaca, maka kita akan melihat wajah kita yang senantiasa sama. Cobalah sejenak meletakakn kaca itu pada sudut yang berbeda, pada posisi yang tak sama, maka kita akan berada di dunia yang berbeda”