07June2013

Home Taujih Kisah Hikmah: Segenggam Garam

Kisah Hikmah: Segenggam Garam

Tweet

Kisah Hikmah: Segenggam GaramSUATU ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Tiba-tiba datanglah seorang anak muda yang sedang di rundung masalah. Langkahnya gontai dan mukanya  ruwet. Tamu itu, seperti orang yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak tua yang bijak, hanya mendengarkan. Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Di taburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu di aduknya perlahan. “Coba, minum ini dan katakan bagaimana rasanya..”. Ujar pak tua itu.

“Pahit, pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah ke samping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum.

Ia lalu mengajak tamunya itu untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Pak Tua lalu menaburkan segenggam garam ke dalam telaga. Dengan sepotong kayu dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu.

“Coba, ambil air dari telaga ini dan minumlah”. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua bertanya lagi, bagaimana rasanya? “Segar”, sahut tamunya.

“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi.

“Tidak”, jawab si anak muda. Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.

“Anak muda, dengarlah... pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan  tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama dan memang akan tetap sama”.

“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan di dasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu”.

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat

“Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan”.

Add comment


Security code
Refresh