Save KPK, Save PKS
Oleh: Ridho Hudayana
Jika dua lembaga yang terkenal integritasnya harus beradu kebenaran ketika sebuah kasus membelit. Siapakah yang benar? Siapakah yang benar-benar bersih?
Kata konspirasi yang seringnya hanya menjadibumbu-bumbu kisah sejarah atau film-film detektif tiba-tiba menjadi popular ketika menjadi isi dari orasi Presiden PKS yang baru terpilih: Anis Matta. Kalangan yang skeptis tentu segera mengatakan sang nakhoda baru partai putih itu terlalu mengada-ada. Saya pikir Anis Matta pun tak hendak menjadikan kata itu sebagai plot orasinya. Tapi sepertinya tak ada kosa kata lain yang bias membawa pesan pada jamaah partai yang dipimpinnya atau partai ini akan limbung dalam waktu sekejap.
Sejak hari itu, bahkan beberapa hari sebelumnya dengan peristiwa penangkapan Presiden PKS terdahulu, Luthfi Hasan Ishak, PKS menjadi buah bibir media nasional, offline maupun online. Saat itu bangsa Indonesia seakan terpana. Partai yang digadang-gadang menjadi harapan bangsa di tengah “sakitnya” perpolitikan bangsa yang cenderung mengarah pada pragmatisme dan kepentingan pribadi seakan sedang menuju garis takdirnya yang sama dengan partai kebanyakan. Sementara kader-kader PKS dan simpatisan bagai sedang menunggu masa injury time dalam pertandingan sepakbola, tegang dan tak tahu harus berkomentar apa. Apalagi yang menangkap sang presiden mereka adalah KPK, lembaga yang nyaris tak pernah salah dalam menangkap orang! KPK adalah lembaga besar yang tentu tak main-main dalam proses ini. KPK adalah ujung tombak pemberantasan korupsi di negeri ini.
Tapi di sisi lain PKS pun bukan pesakitan sembarangan. Partai ini telah sejak lama menggariskan guratan optimisme pada bangsa. Partai ini terkenal dengan aksi-aksi idealisme dan sosialnya di lapangan.Saat bencana banjir, longsor, dan konflik silih berganti terjadi, partai ini dengan kader dan simpatisan militannya segera turun gunung tanpa komanda formal maupun menunggu anggaran turun. Bahkan konflik mengerikan di Ambon menjadititik balik perubahan masyarakat di sana. Pun tragedi Tsunami menjadi video abadi ketulusan dan ketanggapan nomor satu. Di kala partai lain segera bersigap turun ke masyrakat saat lonceng kampanye dibunyikan, partai ini sudah duluan berada di lapangan. Mereka menggelar bakti sosial, pendidikan politik, sampai kegiatan keagamaan.
Kinerja di Parlemen dan di Eksekutif
Partai ini pun tak kalah mengundang decak ketika mereka sudah duduk di kursi parlemen. Mereka menjadi partai yang paling banyak melaporakan dugaan korupsi dan penyalahgunaan dana. Mereka juga dengan cerdas menyodorkan rancangan undang-undang yang sangat lengkap dan serius menggolkannya. Tak cukup itu, mereka juga kritis terhadap pemerintah, baik di lokal/daerah maupun pusat jika ada yang di luar garis kebenaran dan kebaikan.
Pun saat kekuasaan mereka pegang, segala upaya maksimal mereka lakukan. Maka tak heran jika kursi Kementerian Pertanian selaludi percayakan kepada mereka. Kini tambahan Kementrian Sosial pun diperoleh.Sementara di skala lokal, prestasi mereka diganjar dengan keterpilihan kembali pada kursi Walikota Depok, Ggubernur Jawa Barat, Sumatera Utara, dan kini rakya tmenambahnya dengan kursi Gubernur Sumatera Barat.
Maka sekali lagi dalam kasus ini kita seperti menonton pertandingan olahraga yang bertajuk adu bersih: PKS vs KPK. Ya, dua lembaga ini terkenal kebersihannya. Di KPK, track record dan integritas menjadi syarat utama keterpilihan jajaran pimpinan maupun stafnya. Pun di PKS begitu. Bahkan sungguh simpatik, dalam berbagai komentar di media sosial masih banyak dan sempat-sempatnya para kader PKS menulis: kami sayang KPK. Sehingga jika sudah sama-sama bersih begini, maka mau tak mau lontaran Anis Matta besar kemungkinan benar adanya.
Indonesia dengan posisinya secara politis, geografis, dan demografis tentu sangat strategis. Tampil dengan status sebagai negara dengan penduduk terbanyak nomor 4 dunia, plus negara muslim terbesar di dunia dan kekayaan alamnya yang dahsyat tentu mengundang ’semut-semut’ dari luar untuk mencicipinya. Terbukti Belanda tak hanya harus berjibaku dengan rakyat Indonesia untuk merebut kepemimpinan negara ini dahulu berpuluh-puluh tahun, tapi mereka juga harus adu senjata dengan negara kolonial lainnya seperti Spanyol, Portugis, Inggris, dan terakhir Jepang.
Namun karena rakyat Indonesia yang tegar, cerdas, dan pantang menyerah, bangsa ini kembali merebut kedaulatannya. Ini tentu dengan mengorbankan putra-putra terbaiknya. Karena kekuatan senjata tak bias terus menerus menjadi alat menekan bangsa ini, maka konspirasi ditebar di berbagai sudut kehidupan untuk menguasai bangsa ini, minimal melumpuhkannya.
Banyak kepentingan yang masuk untuk tujuan itu: penguasaan kekayaan dan ekonomi, penguasaan politis, sampai kepentingan agama. Jika Anda memperhatikan pengelolaan SDA di penjuru negeri, maka akan Anda dapati perusahaan-perusahaan asing begitu mendominasi. Mulai dari tambang gas Arun di Aceh sampai gurita Freeport di Papua. Kekayaan alam negeri ini terkuras dan diangkuti ke luar negeri. Jika sudah gila harta, maka segala cara bisa dilakukan dan mereka tak mau ini berhenti. Maka secara politis mereka harus mencegah negeri ini dipimpin mereka yang pro-rakyat, apalagi pro-Islam.Karena jelas-jelas konsep Islam menghendaki kemakmuran rakyat sebagai kunci pemanfaatan karunia Tuhan itu. PKS adalah salah satu gerakan yang sangat idealis yang mengusung prinsip keadilan, kesejahteraan rakyat plus kehambaan pada –Nya. Maka PKS adalah penghalang pengerukan harta itu. PKS harus dihentikan sebelum besar.
Siapa yang Bisa Menahan PKS?
Bagaimana tidak? Belum saja meraih pucuk pimpinan nomor satu negeri ini, PKS lewat menterinya di pertanian sudah berani-berani menyetop impor sapi yang kebanyakan dari Barat, termasuk Amerika. Apalagi terbukti Anton Apriyantono, menteri pertanian sebelumnya sudah sukses mengembalikan harkat negeri ini meraih kembali swasembada berasnya. Maka negeri-negeri penyuplai komoditi itu tentu tak mau rekening mereka seret. Maka PKS harus dihentikan. Konspirasi berbau kepentingan bisnis pun ditebar.
Sebelum kasus ini muncul, PKS sudah dicoba dengan kasus pemalsuan dokumen yang berkenaan dengan Century Bank oleh kadernya Misbakhun. Walau sempat mendekam dalam penjara, kemudian terbukti ia tak bersalah dan dibebaskan pengadilan. PKS terbukti bersih. Pun PKS diuji ketika kadernya diberitakan menonton video porno lewat tabletnya disela-sela sidang DPR. Arifinto sang kader tertuduh segera mundur dan media pun kehilangan papan tembak.
Maka siapa yang mampu menahan PKS? Mereka tak doyan main-main perempuan, mereka tak hijau matanya melihat anggaran yang mereka susun sendiri, dan mereka bukan tipe pengkhianat teman atau bangsanya sendiri. Maka secepat kilat Luthi pun ditangkap menjelang detik-detik pemilihan gubernur di propinsi strategis : Jawa Barat dan Sumatera Utara. Penangkapan orang nomor satu partai itu bak pisau yang menghujam jantung, diharapkan PKS akan limbung di dua daerah itu. Ketidakpercayaan masyarakat akan berakhir dikotak suara. Tapi ternyata PKS bukan cuma bersih,mereka juga cerdas. Mereka dalam hitungan jam segera mengganti pucuk pimpinan.Bak pucuk cinta ulam tiba, pimpinan PKS yang bergaya orator, Anis Matta dipilih menjadi sang pengganti. Dengan jam terbang yang tinggi dan skill komunikasi massanya yang mumpuni, Anis segera melakukan apa yang harus ia lakukan. PKS bukan hanya tidak jadi hancur, mereka malah kembali merebut kepemimpinan di dua propinsi penting itu.
SelamatkanKPK
Kini oknum bernama AF seperti menjadi aktor dalam pentas yang ditenggarai sebagai konspirasi besar ini. Entah karena pelurunya habis atau memang seperti itu niatnya, saat sidang digelar beberapa hari lalu, AF membantah semua dugaan yang menjelekkan PKS. Bahkan AF sendiri minta maaf kepada PKS.
Maka siapakah pemenang adu bersih ini? PKS mungkin layak diberi angka 1-0. Tapi PKS tidak jemawa dengan skor itu. Karena itu bukan target sang partai putih. Target mereka adalah bagaimana ikut mengangkat “lawannya” yang terjerembab jatuh, karena sang lawan juga bersih. Sang lawan harus segera dipulihkan karena masih banyak kasus-kasus mega yang masih membelit negeri ini dan harus segera dibereskan tuk kejayaan negeri ini. Gracias,Gentleman! @ by Yunsirno
*http://politik.kompasiana.com/2013/05/23/adu-bersih-pks-vs-kpk-562341.html